Pagi ini, linimasa penuh warna hijau dan biru.
Tagar World Mental Health Day kembali ramai.
Di antara semua unggahan dan ajakan, kami terdiam cukup lama.
Bukan karena kami lupa.
Bukan karena kami berhenti peduli.
Tapi karena tahun ini, kami ingin belajar untuk diam sejenak.
Diam, Bukan Berarti Berhenti Peduli
Beberapa tahun terakhir, kami begitu bersemangat membuat gerakan.
Kampanye, webinar, kelas, dan berbagai ajakan untuk berbicara tentang kesehatan mental.
Semua itu penting, semua itu baik.
Namun, di antara semua kesibukan itu, kami juga melihat sesuatu yang lain
orang-orang yang diam, tapi sebenarnya sedang berjuang.
Mereka yang tidak sempat hadir di ruang kampanye,
karena sedang berusaha menenangkan diri di kamar.
Mereka yang tidak bisa menulis “aku baik-baik saja,”
karena hari itu rasanya bahkan untuk bernapas pun sulit.
Dan kami sadar, kesehatan mental bukan hanya tentang gerakan yang terlihat,
tapi tentang perjalanan sunyi yang sering tidak terucapkan.
Tahun Ini, Kami Belajar Melembut

Tahun 2025, dunia mengangkat tema Mental Health in Humanitarian Emergencies.
Tentang orang-orang yang hidup di tengah krisis, perang, bencana, kehilangan.
Tentang mereka yang mencoba bertahan, bahkan ketika segalanya hancur.
Tapi bukankah, dalam bentuk yang lebih kecil, kita semua pernah berada di “zona krisis” versi kita sendiri?
Kehilangan seseorang.
Hilangnya arah.
Kehilangan semangat untuk melanjutkan hari.
Mungkin itulah mengapa tahun ini kami tidak membuat gerakan besar.
Kami ingin mengingatkan bahwa peduli tidak selalu berarti ramai.
Kadang, bentuk kepedulian terbesar adalah memberi ruang untuk pulih dengan cara masing-masing.
baca juga : Apakah Saya Perlu Konseling? Ini 5 Tanda yang Sering Diabaikan
Pulih Tidak Butuh Panggung
Kesehatan mental bukan tanggung jawab psikolog semata.
Bukan hanya tugas komunitas atau lembaga.
Ia juga tanggung jawab setiap individu termasuk dirimu,
yang hari ini mungkin sedang berjuang diam-diam untuk tetap hadir.
Jadi tahun ini, kami tidak mengajakmu untuk turun ke jalan atau membuat kampanye di media sosial.
Kami hanya ingin berbisik pelan:
Kamu berhak istirahat.
Kamu berhak merasa cukup.
Dan kamu berhak pulih, tanpa perlu panggung.baca juga : Healing Bukan Lari dari Masalah, Tapi Hadir Penuh pada Luka
Karena Merawat Diri Adalah Gerakan yang Paling Nyata
Mungkin dunia masih ramai dengan segala ajakan untuk “bergerak.”
Tapi di antara semua itu, kami memilih satu bentuk gerakan yang paling sederhana menjaga kewarasan.
Menjaga diri agar tetap utuh,
agar bisa terus hadir untuk diri sendiri dan orang lain,
tanpa harus selalu terlihat kuat.
Karena pada akhirnya, merawat diri juga bentuk keberanian.
Keberanian untuk mengakui luka, menerima batas, dan tetap memilih hidup.
Refleksi dari seluruh tim orama psikologi.
