Kita Bertahan Lebih Lama dari yang Kita Sadari

Sering kali kita merasa lemah hanya karena hari ini terasa berat. Kita membandingkan diri dengan orang lain, dengan versi diri di masa lalu, atau dengan harapan yang belum tercapai. Lalu muncul pikiran bahwa mungkin kita tidak sekuat yang kita kira. Padahal, jika dilihat lebih jujur, kita sudah bertahan jauh lebih lama dari yang kita sadari.

Ada banyak hari yang kita lalui sambil menahan lelah. Banyak keputusan sulit yang kita ambil dalam diam. Banyak luka yang tidak pernah benar-benar diceritakan, tapi tetap kita bawa sambil terus menjalani hidup. Bertahan tidak selalu terlihat heroik. Ia sering hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: bangun pagi, tetap hadir, dan tidak menyerah meski hati sedang ingin berhenti.

Dalam ruang terapi, tidak jarang seseorang duduk sambil berkata, “Aku capek,” tanpa menyadari bahwa kalimat itu sendiri adalah bukti ketahanan. Bertahan bukan berarti tidak merasa lelah. Justru rasa lelah adalah tanda bahwa kita telah berusaha cukup lama.

baca juga : Seni Menemukan Bahagia di Hari-Hari Biasa

Psikologi mengenal konsep resilience, yaitu kemampuan manusia untuk tetap berfungsi dan menyesuaikan diri di tengah tekanan. Resilience bukan sifat bawaan yang dimiliki segelintir orang. Ia terbentuk dari pengalaman bertahan, jatuh, lalu bangkit kembali dengan cara masing-masing. Setiap kali kita memilih untuk tetap hidup, meski tanpa semangat besar, di situlah resilience bekerja.

Viktor Frankl pernah menulis bahwa manusia dapat menanggung hampir semua bentuk penderitaan selama ia masih menemukan makna untuk bertahan. Kadang makna itu bukan tujuan besar. Bisa sesederhana tanggung jawab kecil, seseorang yang menunggu, atau harapan samar bahwa suatu hari rasa ini akan berubah.

Kita sering meremehkan perjuangan sendiri karena tidak terlihat dramatis. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada pengakuan. Tapi kenyataannya, bertahan dalam sunyi sering kali lebih berat daripada berjuang di depan banyak orang.

Jika hari ini kamu merasa hampir menyerah, mungkin itu bukan tanda kelemahan. Mungkin itu tanda bahwa kamu sudah berjalan cukup jauh. Dan meski kamu tidak selalu merasa kuat, kenyataannya kamu masih di sini. Masih bernapas. Masih mencoba.

Kita memang tidak selalu sadar seberapa panjang jalan yang sudah kita tempuh. Tapi keberadaan kita hari ini adalah bukti sederhana bahwa kita telah bertahan lebih lama dari yang kita sadari.

Penulis : Leonardus Devi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *