Belajar Menjadi Rumah bagi Diri Sendiri

Ada masa dalam hidup ketika kita merasa tidak punya tempat untuk pulang. Bukan karena tak ada rumah secara fisik, tapi karena hati terasa asing di mana pun kita berada. Kita duduk di ruang yang sama, tersenyum pada orang yang kita cintai, tapi di dalam diri ada sesuatu yang kosong seolah kita sedang “tidak di rumah.”

Sebagai hipnoterapis, aku sering menemui wajah-wajah seperti itu. Orang-orang yang tampak baik-baik saja di luar, tapi di balik mata mereka ada cerita panjang tentang kehilangan, penolakan, dan pencarian akan rasa aman.
Ada yang berkata, “Aku sudah berusaha jadi versi terbaikku untuk orang lain, tapi kenapa aku tetap merasa sepi?”

Dan di situ aku belajar; banyak dari kita sedang mencari “rumah”, tapi di tempat yang salah. Kita berharap diterima oleh pasangan agar bisa merasa cukup. Mengejar kesuksesan agar merasa layak. Sibuk memenuhi harapan orang lain agar bisa merasa dicintai. Tapi lupa bahwa rumah bukanlah tempat di luar sana, melainkan sesuatu yang kita bangun di dalam diri.

baca juga : Mengapa Kita Perlu Mendengarkan Cemas, Bukan Mengusirnya

Menjadi rumah berarti menerima diri, bahkan ketika sedang berantakan

Psikolog Kristin Neff menyebut ini self-compassion yang berarti kemampuan untuk bersikap lembut pada diri sendiri saat gagal, sedih, atau terluka. Karena kalau setiap kali kita jatuh kita malah menyalahkan diri, bagaimana mungkin kita merasa aman di dalam diri sendiri?

Rumah yang sejati bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang penerimaan.
Tentang berani berkata, “Aku belum baik-baik saja, tapi aku tetap layak dicintai.”
Dan anehnya, dari kalimat sederhana itu sering muncul kekuatan baru. Bukan karena masalah hilang, tapi karena kita berhenti berperang dengan diri sendiri.

Kadang pulang berarti berhenti berlari

Viktor Frankl pernah menulis,

“When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves.”

Ada kalanya, yang perlu kita ubah bukan dunia di luar, tapi cara kita memperlakukan batin kita.
Mungkin pulang bukan berarti menemukan seseorang yang memahami kita, tapi akhirnya kita sendiri mau mendengarkan isi hati kita tanpa menghakimi. Mungkin pulang berarti berani diam sejenak, mengakui rasa lelah, dan berkata pelan, “Aku di sini, untukmu.”

Belajar menjadi rumah bagi diri sendiri memang bukan perjalanan yang cepat. Terkadang kamu akan merasa sendirian, terkadang kamu akan ingin kembali mencari rumah di luar sana. Tapi setiap kali kamu berani kembali pada dirimu sendiri; bernafas perlahan, mengakui rasa sakit, dan memberi ruang untuk pulih. Di sanalah proses pulang itu sedang terjadi.

Dan mungkin, pada akhirnya, rumah bukanlah tempat yang harus ditemukan.
Rumah adalah diri kita sendiri ketika hati akhirnya bisa berkata, “Aku aman di sini.”

Penulis : Leonardus Devi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *