Kadang kita tahu sebuah hubungan sudah bikin capek, tapi tetap sulit pergi. Bukan selalu karena cintanya masih besar. Sering kali, yang membuat seseorang bertahan adalah campuran antara rasa terikat, harapan bahwa semuanya bisa membaik, dan takut harus memulai ulang dari nol. Dalam psikologi hubungan, hal ini cukup masuk akal.
Salah satu penjelasannya adalah attachment. Teori attachment menjelaskan bahwa cara kita terikat dengan pasangan memengaruhi cara kita merespons jarak, konflik, dan ancaman kehilangan. Orang dengan attachment anxiety cenderung lebih sensitif terhadap penolakan atau perubahan sikap pasangan, sehingga hubungan yang tidak tenang bisa terasa makin sulit dilepaskan. Sementara itu, attachment insecurity secara umum berkaitan dengan pola regulasi emosi yang lebih rumit saat hubungan sedang tertekan.
baca juga : Capeknya Jadi Anak Sulung
Ada juga faktor takut sendiri. Penelitian Spielmann dan kolega menunjukkan bahwa fear of being single dapat membuat orang lebih mungkin “settling for less,” lebih bergantung pada hubungan yang tidak memuaskan, dan lebih kecil kemungkinannya untuk memulai putus dari hubungan yang kurang memuaskan. Jadi, kadang seseorang bertahan bukan karena hubungannya sehat, tetapi karena kesepian terasa lebih menakutkan daripada bertahan.
Selain itu, ada konsep investment model. Model ini menjelaskan bahwa komitmen dalam hubungan bukan hanya ditentukan oleh puas atau tidaknya kita, tetapi juga oleh seberapa besar investasi yang sudah ditanam dan seberapa baik alternatif yang kita rasakan di luar hubungan. Investasi itu bisa berupa waktu, kenangan, perjuangan, rencana masa depan, kedekatan dengan keluarga pasangan, atau rasa bahwa “sudah terlalu banyak yang dikorbankan.” Tidak heran, semakin besar investasi, semakin sulit hubungan dilepas meski sudah melelahkan.
Faktor lain yang sering luput adalah harapan. Riset tentang expected future satisfaction menunjukkan bahwa komitmen seseorang pada hubungan tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi hubungan saat ini, tetapi juga oleh seberapa besar ia percaya hubungan itu akan terasa lebih baik di masa depan. Itu sebabnya banyak orang tetap bertahan sambil berkata, “Mungkin nanti dia berubah,” atau “Mungkin kita cuma lagi ada di fase sulit.” Harapan bisa memberi tenaga, tapi juga bisa membuat seseorang lama tinggal di hubungan yang sudah menguras.
Simpulan
Jadi, sulit melepaskan hubungan yang melelahkan bukan berarti kamu lemah atau bodoh. Sering kali, ada pola psikologis yang membuat seseorang tetap bertahan: keterikatan, rasa takut kehilangan, investasi yang sudah besar, dan harapan yang belum padam. Tapi kalau sebuah hubungan sudah membuatmu terus-menerus cemas, kehilangan diri sendiri, atau merasa takut, mungkin pertanyaannya bukan lagi “Kenapa aku belum bisa pergi?” melainkan “Apa yang sebenarnya membuatku terus menahan diri?” Dan bila hubungan melibatkan kekerasan, ancaman, kontrol, atau rasa takut pada pasangan, keselamatan dan dukungan yang aman perlu jadi prioritas. WHO menekankan bahwa kekerasan pasangan berdampak besar pada kesehatan mental dan perlu respons yang berpusat pada penyintas.
baca juga : leonardus devi
Referensi
- Simpson, J. A., & Rholes, W. S. (2017). Adult Attachment, Stress, and Romantic Relationships.
- Spielmann, S. S., et al. (2013). Settling for less out of fear of being single.
- Stanley, S. M., Rhoades, G. K., & Whitton, S. W. (2010). Commitment: Functions, Formation, and the Securing of Romantic Attachment.
- Rhoades, G. K., Kamp Dush, C. M., Atkins, D. C., Stanley, S. M., & Markman, H. J. (2011). Breaking Up is Hard to Do: The Impact of Unmarried Relationship Dissolution on Mental Health and Life Satisfaction.
- Baker, L. R., McNulty, J. K., & VanderDrift, L. E. (2017). Expectations for Future Relationship Satisfaction: Unique Sources and Critical Implications for Commitment.
