Hidup jarang berjalan persis seperti yang kita rancang. Ada rencana yang tertunda, arah yang berubah, dan versi diri yang terasa jauh dari bayangan awal. Di titik itu, banyak orang mulai memusuhi dirinya sendiri. Seolah-olah hidup yang tidak sesuai rencana adalah bukti kegagalan pribadi.
Padahal, tidak semua yang melenceng berarti salah.
Berdamai dengan diri yang tidak sesuai rencana bukan berarti berhenti berharap atau menyerah pada keadaan. Ini adalah proses menerima bahwa kita bertumbuh lewat jalan yang tidak selalu lurus. Bahwa ada hal-hal yang baru bisa dipahami setelah kita melewatinya, bukan sebelum.
baca juga : Hati yang Tenang Tidak Datang dari Dunia yang Tenang
Dalam pendekatan psikologi humanistik, Carl Rogers menekankan bahwa ketidaksesuaian antara diri ideal dan diri nyata sering menjadi sumber kecemasan. Semakin jauh jaraknya, semakin keras kita menghakimi diri. Berdamai berarti memperkecil jarak itu, bukan dengan memaksa diri menjadi ideal, tetapi dengan menerima realitas diri hari ini.
Ada orang yang merasa tertinggal karena hidupnya tidak sesuai timeline sosial. Usia tertentu belum mencapai hal tertentu. Karier belum stabil. Relasi tidak seperti yang dibayangkan. Tapi hidup tidak pernah bertanya apakah kita siap saat perubahan datang. Ia hanya terus berjalan, dan kita dipanggil untuk menyesuaikan langkah, bukan memukul diri karena tertinggal.
Viktor Frankl pernah menulis bahwa makna hidup tidak ditemukan dengan mengikuti rencana kaku, tetapi dengan merespons situasi yang dihadirkan hidup pada kita. Kadang makna justru lahir dari kegagalan rencana itu sendiri.
Berdamai dengan diri yang tidak sesuai rencana berarti mengakui bahwa kita telah melakukan yang terbaik dengan pengetahuan dan kekuatan yang kita miliki saat itu. Bahwa keputusan masa lalu tidak dibuat untuk melukai diri sendiri, melainkan untuk bertahan.
Rencana boleh berubah. Arah boleh bergeser. Tapi nilai diri tidak ikut gugur bersamanya. Kita tetap utuh, meski jalannya berbeda.
Mungkin hidup tidak membawa kita ke tempat yang dulu kita impikan. Tapi bisa jadi, ia sedang mengantar kita ke versi diri yang lebih jujur, lebih sadar, dan lebih manusiawi.
Penulis : Leonardus Devi
