Ada fase dalam hidup ketika kita melihat diri sendiri dengan mata yang terlalu keras. Kekurangan terasa lebih nyata daripada usaha. Kesalahan terasa lebih besar daripada niat baik. Di tengah tuntutan untuk terus berkembang, kita lupa satu hal sederhana yaitu menghargai diri tidak harus menunggu kita menjadi sempurna.
Banyak orang baru mengizinkan dirinya merasa cukup setelah mencapai sesuatu. Setelah target terpenuhi, setelah luka sembuh, setelah hidup terlihat rapi. Padahal, menunda penghargaan pada diri sendiri justru membuat perjalanan terasa lebih berat. Kita berjalan, tapi terus membawa beban kritik yang tidak pernah selesai.
Dalam psikologi, konsep self-worth tidak ditentukan oleh pencapaian semata. Carl Rogers menekankan pentingnya unconditional positive regard, yaitu penerimaan tanpa syarat, termasuk kepada diri sendiri. Ketika kita hanya menghargai diri saat berhasil, kita sedang mengajarkan hati bahwa ia baru layak dicintai jika memenuhi standar tertentu.
Ada seseorang yang datang ke ruang terapi dengan satu kalimat yang terus berulang di kepalanya bahwa “Aku kurang.” Kurang pintar, kurang kuat, kurang berhasil. Tapi ketika ditelusuri, hidupnya penuh dengan upaya bertahan, keputusan sulit, dan keberanian yang jarang ia akui. Kekurangan yang ia lihat ternyata berdampingan dengan ketahanan yang selama ini ia abaikan.
baca juga : Belajar Menjadi Rumah bagi Diri Sendiri
Menghargai diri di tengah kekurangan bukan berarti menolak perubahan. Ini bukan tentang berhenti bertumbuh, melainkan tentang mengubah cara kita berbicara pada diri sendiri. Kita tetap boleh ingin berkembang, tanpa harus membenci versi diri saat ini.
Viktor Frankl pernah menulis bahwa manusia dapat menemukan makna bukan hanya dalam keberhasilan, tetapi juga dalam sikap terhadap keterbatasan. Ketika kita berhenti melawan fakta bahwa kita tidak sempurna, ruang untuk bertumbuh justru terbuka lebih luas.
Belajar menghargai diri adalah proses yang sunyi. Tidak selalu terlihat. Tidak selalu dipuji. Tapi ia mengubah sesuatu yang mendasar: cara kita pulang ke diri sendiri setelah hari yang berat. Kita berhenti menyalahkan, dan mulai merawat.
Mungkin kekurangan akan selalu ada. Tapi di antara semua itu, ada diri yang terus mencoba, jatuh, bangkit, dan bertahan. Dan itu sudah cukup layak untuk dihargai.
Penulis : Leonardus Devi
