Banyak orang menunggu dunia menjadi lebih tenang untuk akhirnya merasa damai. Kita menunggu masalah selesai, pekerjaan stabil, hubungan membaik, atau hidup terasa lebih “aman”. Seolah-olah ketenangan hanya mungkin hadir ketika semuanya rapi dan terkendali. Padahal, kenyataannya tidak selalu seperti itu.
Dalam praktik terapi, sering terlihat bahwa hati yang paling tenang justru bukan milik mereka yang hidupnya tanpa masalah, tetapi mereka yang belajar berdamai di tengah kekacauan. Mereka yang tidak lagi sibuk melawan setiap hal yang tidak bisa dikontrol, tetapi memilih untuk hadir, bernafas, dan menerima bahwa hidup memang tidak pernah sepenuhnya sunyi.
Psikologi mengenal konsep emotional regulation, kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi. James Gross (1998) menjelaskan bahwa ketenangan bukan berasal dari menghilangkan emosi negatif, tetapi dari cara kita merespons emosi tersebut. Artinya, hati yang tenang tidak lahir karena dunia tiba-tiba menjadi ramah, tetapi karena kita belajar memeluk gelombang emosi tanpa tenggelam di dalamnya.
baca juga : Hidup Bukan Tentang Kontrol, Tapi Tentang Melepaskan
Ada cerita sederhana tentang seseorang yang selalu merasa hidupnya berisik. Pekerjaan menuntut, keluarga penuh dinamika, dan pikiran tak pernah berhenti. Ia mencoba banyak cara: liburan, scrolling tanpa henti, bahkan menarik diri dari orang-orang. Tapi ketenangan tidak datang. Hingga suatu hari, ia duduk diam selama beberapa menit tanpa mengubah apa pun di hidupnya. Ia hanya memperhatikan nafasnya. Ia tidak mengusir pikirannya, tidak melawan emosinya. Untuk pertama kalinya, ia tidak mencari sunyi, tapi menerimanya.
Di sinilah makna sebenarnya dari ketenangan. Bukan dunia yang berubah, tetapi cara kita berdiri di dalam dunia itu.
Viktor Frankl pernah menulis bahwa di antara stimulus dan respons, ada ruang. Di ruang itulah manusia memiliki kebebasan untuk memilih sikapnya. Ketenangan lahir dari ruang itu. Dari jeda kecil antara apa yang terjadi dan bagaimana kita memaknainya.
Tidak semua hari akan tenang. Masalah tetap datang. Luka tetap terasa. Hidup tetap berjalan tanpa menunggu kita siap. Tetapi hati bisa belajar untuk tidak selalu bereaksi dengan panik. Hati bisa belajar untuk tetap lembut meski dunia keras.
Hati yang tenang bukan hadiah dari dunia luar. Ia adalah keterampilan hati, latihan harian, keberanian untuk tidak selalu lari, tidak selalu melawan, dan tidak selalu memaksa hidup sesuai rencana.
Dan mungkin, tenang bukan berarti hidup tanpa badai, tetapi kemampuan untuk berdiri di tengah badai tanpa kehilangan diri sendiri.
Penulis : Leonardus Devi
