Ada fase dalam hidup yang hampir semua orang alami: harus pergi dari sesuatu yang dulu terasa dekat, dan harus melepaskan tanpa benar-benar tahu caranya. Perpisahan tidak selalu tentang putus hubungan. Kadang, ia tentang melepaskan harapan, rencana, mimpi, atau versi diri yang dulu kita banggakan.
Banyak orang berpikir bahwa cara paling aman untuk melepaskan adalah dengan membenci. Marah dijadikan perisai. Kecewa dijadikan tembok. Tapi di balik semua itu, sering kali ada luka yang belum diizinkan sembuh dengan cara yang lebih lembut.
Pergi tanpa membenci bukan berarti menyangkal rasa sakit. Itu adalah keberanian untuk mengakui bahwa sesuatu memang menyakitkan, tetapi kita tidak ingin hidup selamanya di dalam luka itu. Kita boleh terluka, tapi kita tidak harus membangun rumah di atas luka tersebut.
baca juga : Belajar Menjadi Rumah bagi Diri Sendiri
Dalam dunia psikologi, Viktor Frankl pernah menulis bahwa manusia selalu memiliki kebebasan terakhir: memilih sikap terhadap penderitaan. Kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi dalam hidup, tetapi kita selalu bisa memilih bagaimana kita meresponsnya. Melepaskan tanpa membenci adalah salah satu bentuk pilihan tersebut.
Proses ini tidak pernah instan. Akan ada hari-hari ketika rindu masih muncul. Ada momen ketika ingatan lama datang kembali. Dan itu tidak salah. Melepaskan bukan tentang menghapus memori, tetapi tentang mengubah cara kita berdamai dengannya.
Saat kita belajar pergi tanpa kebencian, kita sedang melindungi diri sendiri. Kita berhenti menyakiti diri dengan mengulang kemarahan yang sama. Kita berhenti memaksa hati untuk mengeras hanya demi terlihat kuat di luar.
Pada akhirnya, melepaskan tanpa membenci adalah bentuk cinta paling tenang kepada diri sendiri. Kita tidak melupakan sepenuhnya, tapi kita berhenti menyimpan racun di dalam hati. Kita memilih damai, bukan karena semuanya baik-baik saja, tetapi karena kita layak hidup dengan hati yang lebih ringan.
Penulis : Leonardus Devi
