Seni Menemukan Bahagia di Hari-Hari Biasa

Suatu pagi, seorang teman bercerita bahwa ia merasa hidupnya akhir-akhir ini “biasa saja”. Tidak buruk, tapi juga tidak terlalu menyenangkan. Rutinitas terasa seperti lembaran yang diulang berkali-kali: bangun, bekerja, pulang, tidur.
Lalu ia bertanya, “Apakah bahagia itu harus dicari sejauh itu? Kok rasanya makin dikejar, makin hilang.”

Pertanyaan itu mengendap lama di pikiranku.

Karena tanpa ia sadari, pagi itu ia sedang duduk ditemani secangkir teh hangat, matahari masuk lewat jendela kecil, dan angin membawa aroma tanah setelah hujan semalam. Dari luar, semuanya terlihat sederhana; tapi bukankah justru momen seperti itu yang sering luput kita syukuri?

Kadang bahagia tidak hilang. Kita saja yang terlalu terburu-buru melewatinya.

baca juga : MENEMUKAN DIRI DI TENGAH PATAH : Sebuah catatan tentang resilience


Beberapa waktu lalu, aku membaca tulisan dari penulis Jepang, Haruki Murakami, yang mengatakan bahwa banyak bagian penting dalam hidup sering terjadi diam-diam, tanpa fanfare. Tidak ada kembang api, tidak ada tepuk tangan. Hanya hadir begitu saja.
Dan mungkin memang begitu cara kerja kebahagiaan kecil: hadir tanpa drama, tanpa tuntutan.

Ketika kita berhenti sejenak, kita mulai menyadari hal-hal kecil yang memperbaiki hari. Tawa singkat dari orang terdekat. Aroma makanan favorit. Jalan pulang yang lebih lengang dari biasanya. Langit sore yang tidak minta diperhatikan, tapi entah mengapa membuat langkah terasa lebih ringan.


Suatu hari, aku juga melihat seorang ibu membawa anaknya menyebrang jalan. Ia tampak lelah, tapi ketika anak itu menatapnya sambil tertawa, wajah sang ibu ikut melunak. Sederhana sekali, tapi di sana ada kebahagiaan yang murni; yang tidak akan terekam kamera, tapi sangat nyata.

Di saat lain, aku melihat seorang bapak tua duduk di bangku taman, hanya menatap daun-daun jatuh dari pohon. Tidak ada yang “istimewa”, tapi ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Mungkin itu juga bentuk bahagia yang lain: bahagia karena akhirnya tidak terburu-buru.

Hari-hari biasa ternyata tidak sesederhana itu. Di dalamnya selalu ada ruang kecil untuk merasa lebih hidup.


Bahagia, pada akhirnya, bukan sesuatu yang harus ditemukan di puncak pencapaian besar. Menurut penelitian psikologi positif oleh Sonja Lyubomirsky, kebahagiaan justru banyak tumbuh dari “small daily uplifts” (Hal-hal kecil yang menyentuh perasaan kita secara spontan). Dan hal-hal kecil itu sering terjadi justru ketika kita berani memperlambat langkah, bukan ketika kita mengejar terlalu keras.


Bahagia mungkin tidak pernah benar-benar pergi.
Kita saja yang kadang terlalu ribut dengan apa yang belum kita punya, sampai lupa melihat apa yang sudah ada.

Dan mungkin, seperti kata teman tadi, hidup yang “biasa saja” itu bukan tanda ada yang kurang. Bisa jadi, itu tanda bahwa hati sebenarnya sedang belajar menemukan rumahnya. Di tengah hal-hal yang tampak sederhana, tapi sebenarnya paling menenangkan.

Kalau dipikir-pikir, mungkin memang begitu:
Bahagia itu sederhana. Kita saja yang sering membuatnya rumit.

Penulis : Leonardus Devi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *