Tubuh Mengingat Apa yang Ingin Kita Lupakan (Refleksi tentang trauma yang tinggal dalam tubuh)

Ketika Pikiran Lupa, Tubuh Masih Mengingat

Banyak orang percaya bahwa trauma adalah hal psikologis semata, sesuatu yang terjadi di kepala. Mereka berkata, “Saya sudah lupa,” seolah waktu otomatis menyembuhkan segalanya. Namun tubuh sering bercerita berbeda. Tubuh mengingat ketegangan, ketakutan, dan rasa tidak aman yang pernah dialami, meski pikiran mencoba menguburnya.

Di ruang terapi, aku sering melihat seseorang berbicara dengan tenang, tetapi napasnya pendek, bahunya tegang, atau jemarinya terus bergerak tanpa sadar. Tubuhnya masih waspada seperti sedang menghadapi sesuatu yang berbahaya. Inilah yang dimaksud Bessel van der Kolk ketika menulis, “The body keeps the score.”

Luka yang Tidak Selalu Berbentuk Cerita

Aku pernah mendampingi seseorang yang selalu berkata, “Saya baik-baik saja.” Tetapi setiap kali menyentuh bagian tertentu dari masa lalunya, tubuhnya mengecil, seolah ingin menyembunyikan diri. Rahangnya mengeras, matanya menghindar, dan suaranya mengecil. Bukan karena ia ingin berbohong, melainkan karena tubuhnya masih berada dalam mode bertahan.

Somatic psychology menjelaskan bahwa ketika seseorang tidak bisa melawan atau melarikan diri pada momen berbahaya, tubuh “menyimpan” ketegangan itu. Ia menjadi sensasi yang tersisa bertahun-tahun kemudian menghadirkan kecemasan yang tidak jelas penyebabnya, tubuh tegang tanpa alasan, atau pikiran yang tiba-tiba kosong saat terpicu sesuatu.

Trauma, pada akhirnya, tidak hanya disimpan sebagai cerita. Ia disimpan sebagai sensasi.

baca juga : Hidup Bukan Tentang Kontrol, Tapi Tentang Melepaskan

Tubuh Juga Tahu Cara Pulih

Di balik semua itu, ada harapan yang selalu aku lihat dalam setiap proses pemulihan. Tubuh tidak hanya menyimpan traum juga tahu bagaimana memulihkan diri. Tanda-tanda kecil seperti napas yang mulai lebih panjang, bahu yang perlahan turun, atau keberanian seseorang untuk merasakan emosinya lagi, adalah sinyal bahwa tubuh sedang membuka ruang baru.

Penyembuhan tidak terjadi dengan memaksa diri “melupakan,” tetapi dengan membiarkan tubuh merasa aman kembali. Viktor Frankl pernah menulis bahwa manusia selalu memiliki ruang kecil untuk memilih, bahkan dalam penderitaan sekalipun. Ruang itu mungkin saja dimulai dari satu napas yang lebih lembut.

Mendengarkan Tubuh, Mengizinkan Diri Pulih

Trauma bukan kelemahan. Ia adalah bukti bahwa kita pernah bertahan dalam situasi yang tidak memberi kita pilihan. Dan pemulihan bukan tentang melupakan, melainkan memahami apa yang tubuh coba sampaikan selama ini.

Tubuh mengingat bukan untuk menyakiti kita, tetapi untuk mengingatkan bahwa ada bagian diri yang ingin didengarkan, dirawat, dan akhirnya dilepaskan dengan tenang.

Penulis : Leonardus Devi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *