Di Balik Setiap Luka, Ada Diri yang Sedang Mencoba Bertahan dengan Caranya Sendiri

Kita sering kali hanya melihat permukaan dari seseorang; bagaimana ia bersikap, berbicara, atau bereaksi. Tapi di balik itu, ada hal yang tak selalu tampak yaitu adalah usaha bertahan.

Orang yang terlihat keras mungkin sedang mencoba melindungi dirinya dari rasa takut yang belum selesai.
Yang tampak selalu tenang bisa jadi sedang menahan gelombang emosi di dalam diri agar tidak pecah.
Dan yang memilih diam, mungkin sedang berusaha memahami bagaimana caranya kembali percaya.

Luka Tidak Selalu Terlihat, Tapi Ia Nyata

Dalam ruang terapi, sering kali saya mendengar kalimat seperti, “Saya sudah melupakan masa lalu itu.”
Namun, tubuh dan pikiran tidak selalu sepakat dengan kata “lupa.”
Seperti yang dijelaskan oleh Bessel van der Kolk dalam bukunya The Body Keeps the Score, tubuh menyimpan jejak trauma.
Mungkin kita tidak mengingat detail peristiwa, tapi tubuh masih merasakan dampaknya: cemas tanpa sebab, sulit percaya, atau mudah tersinggung.

Itulah cara tubuh berkata, “Aku masih mencoba bertahan.”

baca juga : Memaafkan Diri Sendiri: Awal dari Kedamaian Batin

Setiap Orang Bertahan dengan Caranya Sendiri

Tidak ada cara yang benar atau salah dalam bertahan. Ada yang menulis untuk melepaskan emosi, ada yang berdoa setiap malam, ada pula yang hanya ingin tidur lebih lama agar rasa sakit itu tidak terasa terlalu nyata.

Kita tidak perlu membandingkan proses pemulihan diri dengan orang lain. Karena trauma bukan kompetisi siapa yang paling cepat pulih.
Yang terpenting adalah, setiap hari, kita memberi sedikit ruang bagi diri untuk bernapas tanpa tekanan untuk “sudah harus sembuh.”

Empati Adalah Jembatan Antara Luka dan Pemulihan

Saat kita berhadapan dengan seseorang yang terluka, respons terbaik bukanlah nasihat, melainkan kehadiran yang aman.
Tidak perlu banyak kata, cukup duduk bersama, mendengarkan tanpa menghakimi.
Itu sudah menjadi bentuk dukungan emosional yang luar biasa bagi seseorang yang sedang berjuang.

Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, pernah mengatakan,

“When someone really hears you without passing judgment, it feels damn good.”
Didengar tanpa dihakimi, adalah pengalaman yang memulihkan.

Menjadi Lembut pada Diri Sendiri

Jika kamu masih sering teringat masa lalu, atau masih merasa sulit mempercayai orang lain, bukan berarti kamu lemah. Itu tanda bahwa tubuh dan hatimu sedang berproses.

Belajarlah untuk bersikap lembut pada diri sendiri.
Tidak semua luka perlu dilupakan; beberapa cukup dipeluk, diakui, dan diterima keberadaannya agar perlahan, ia bisa tenang.

Karena di balik setiap luka, selalu ada diri yang masih mencoba bertahan dengan caranya sendiri.
Dan di sanalah kekuatan manusia paling nyata terlihat bukan dalam keberhasilan menutupi luka, tapi dalam keberanian untuk terus hidup bersamanya.

Penulis : Leonardus Devi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *