Yang Tak Diucapkan, Tapi Didoakan dalam Diam

Sebuah refleksi oleh Leonardus Devi

Ada masa ketika hidup terasa terlalu sunyi untuk dijelaskan dengan kata. Kita mencoba berbicara, menulis, bahkan menangis—namun tak ada yang benar-benar mewakili isi hati. Lalu pada akhirnya, kita memilih diam. Bukan karena menyerah, tapi karena hanya lewat diam kita bisa benar-benar mendengar diri sendiri.

Aku sering melihat momen ini di ruang terapi.

Seseorang datang dengan mata lelah, duduk di hadapanku tanpa banyak bicara. Beberapa menit pertama terasa hening. Namun dari cara ia menarik napas, dari matanya yang perlahan basah, aku tahu bahwa ia sedang berdoa dalam diam. Bukan doa yang diucapkan, tapi doa yang lahir dari keinginan sederhana: untuk bertahan, untuk dimengerti, untuk tenang.

“When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves.”
— Viktor Frankl

Kalimat itu selalu mengingatkanku bahwa ketika kita tidak bisa mengubah keadaan, kita diajak untuk mengubah diri. Mungkin doa dalam diam adalah bentuk perubahan itu; saat kita berhenti memaksa dunia berjalan sesuai keinginan kita, dan mulai belajar menerima. Di titik itu, doa bukan lagi permintaan, melainkan penerimaan.

baca juga : Kenapa Kita Sering Menyalahkan Diri Sendiri? Memahami Inner Critic

Aku masih ingat satu sesi ketika seorang klien berkata lirih, “Saya sudah berdoa berkali-kali, tapi sepertinya Tuhan diam saja.”
Aku tersenyum pelan, lalu menjawab, “Mungkin justru dalam diam itu, Tuhan sedang mendengarkanmu lebih dalam dari yang kamu kira.”
Karena sering kali, doa bukan tentang seberapa keras kita bersuara, tapi seberapa tulus kita hadir dalam keheningan. Ada doa yang tak berbunyi tapi menggema di dada, setiap kali kita memilih untuk tidak menyerah.

“Man’s last freedom is to choose one’s attitude in any given set of circumstances.”
— Viktor Frankl

Kita mungkin tidak bisa mengubah apa yang terjadi, tapi kita selalu bisa memilih bagaimana cara menjalaninya. Dan bagi banyak orang, berdoa dalam diam adalah bentuk kebebasan itu—cara lembut untuk tetap berharap, meski dunia terasa berat.

Aku percaya, diam bukan tanda lemah. Ia justru ruang bagi jiwa untuk bernafas. Di tengah kesibukan, kesedihan, atau rasa kehilangan, diam menjadi tempat kita kembali pulang pada diri sendiri. Kadang kita hanya perlu duduk sejenak tanpa musik, tanpa notifikasi, tanpa distraksi untuk menyadari bahwa kita masih hidup, masih disertai, dan masih punya kesempatan untuk memulai lagi.

Doa dalam diam tidak butuh bahasa, karena ia lahir dari hati yang perlahan belajar untuk percaya lagi. Percaya bahwa ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan, cukup dirasakan. Bahwa ada proses yang tidak bisa dipercepat, hanya bisa dijalani. Dan bahwa setiap luka, sekecil apa pun, bisa sembuh ketika kita mengizinkan diri untuk berhenti melawan.

Terkadang, yang paling dalam bukan yang diucapkan, melainkan yang didoakan dalam diam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *